Sukirno menatap dengan tatapan kosong gelas kopi yang ternyata juga telah kosong. Ampasnya menghitam di dasar gelas kaca itu. “gelasnya sama… kosong… seperti pikiran dan hatiku…kosong! Bedanya dia menyisakan ampas, sedang diriku tak bersisa..”. pria tua itu berceloteh, seakan-akan ada seseorang yang mendengar celotehannya. Tersenyum sendiri. Namun hatinya menangis, sendu.
Diambilnya tali tambang yang telah terkorosi oleh waktu yang ia temukan di pinggir sawah. Kemudian, Sukirno mengambil bangku tua di kamar anaknya dan menaikinya. Hup! Tali itu dilemparkannya pada sebongkah kayu yang menyangga atap rumah kumuhnya, disimpul matikannya tali itu , dan dibuatlah lubang sebesar kepalanya di ujung tambang tersebut. Tambang itu ditariknya kuat-kuat. Untuk memastikan, apakah tambang itu cukup kuat menopang tubuh ringkihnya. Kemudian ia kalungkan tambang itu pada lehernya. Dan ia kencangkan simpulnya. Kemudian Sukirno tersenyum..
Detik pertama :
terdengar alunan musik dangdut dari rumah sebelah. “makan..makan sendiri. minum… minum sendiri, nyuci… baju sendiri..tidurpun sendiri..”
Detik kedua :
Sukirno melihat sesosok banyangan hitam berkelabat melawatinya.
Detik ketiga :
Matanya terbelalak kaget melihat sosok itu, saking kagetnya kaki gemetar dengan hebat. Bangku yang dinaikinyapun terjatuh. Lehernya terjepit. Lidahnya terjulur. Sakit.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment